Tuesday, March 19, 2013

HARUS BAGAIMANA??


Pernahkah kita memikirkan apa yang akan terjadi besok, seminggu, sebulan, setahun atau bertahun-tahun kemudian. Pernahkah kita memikirkannya? Semua kejadian yang akan terjadi hanya misteri bagi kita,hanya Tuhan yang mengetahuinya karena Tuhan yang mengatur segalanya. Terus seandainya Tuhan telah mengatur semua yang akan terjadi esok dan hari-hari kedepan buat apa kita repot-repot melakukan segala hal, toh semua sudah digariskan. Kita hanya tinggal menjalani takdir yang ada. Sematang dan sehebat apapun rencana yang kita susun akan hancur berantakan bila Tuhan tidak mengijinkan. Segiat dan sekeras apapun usaha kita bila Tuhan tak mengijinkan semua usaha kitapun akan sia-sia dan gagal total. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka" potongan ayat yang menekan agar kita berusaha, saya tau itu. Tapi pernah kita tengok sejarah sebentar. Coba ingat kita ingat kembali sejarah prakemerdekaan kita, ambillah contoh Pahlawan kita semisal Pangeran Antasari, Imam Bonjol, Pangeran Hasanudin, dan lainya. Mereka yang berjuang dengan rencana yang matang, dengan tekad keras serta di iringi niat dan dan doa yang tulus kepada Tuhan toh akhirnya gagal sampai mereka gugur. Ternyata usaha yang keras, tekad yang bulat, doa kepada Tuhan pun masih belum cukup. Sekarang kita ambil contoh sekarang, bagaimana masih banyak yang berjuang dengan meneriakan takbir disetiap perjuangannya masih tetap gagal. Hamper setiap hari dari mereka harus meregang nyawa demi perjuangannya, baik mereka yang berjuang secara langsung atau hanya terkena imbasnya, seperti anak-anak, wanita dan manula (untuk contoh ini marilah kita tengok sodara kita yang jauh d Palestina, Mindanau, Rohingnya dan masih bnyak d beberapa Negara lainnya). 

Sekarang pertanyaannya,nasib kita ada ditangan Tuhan ataukah ditangan kita sendiri. Bila benar di tangan Tuhan mengapa setiap usaha yang di iringi doa dan usaha serta niat yang mulia masih gagal, dimana letak salahnya. Tuhan Maha Penyanyang, saya tau itu, tapi mengapa masih banyak anak-anak yang harus meregang nyawa tanpa mereka tau apa sebabnya, bukankah mereka belum berdosa. Tuhan Maha Penyayang, saya tau itu, tapi mengapa masih banyak wanita diperkosa dan di lecahkan disana. Mengapa Tuhan tidak menghukum mereka yang berbuat aniaya tersebut. Saya pernah dengar ada yang berkata, itu semua ujian dan Tuhan tak akan member ujian diluar batas kemampuan umatnya. Tapi apa harus seberat itu, dan buktinya banyak di antara mereka yang sampai meninggal karena menanggung beban itu. Entah itu karena sengaja dibunuh atau mereka yang tidak kuat dan bunuh diri,bila memang masih dalam batas kemampuan umat tak aka nada kata bunuh diri. Bukankah bunuh diri adalah jalan keluar dari kegagalan, baik itu dari masalah sosial, ekonomi, atau asmara. 

Cobalah lihat ikan di tambak atau dikolam, si pemilik melepaskan ikannya di tambak. Disana si ikan hidup bersama ikan-ikan lainnya. Berusaha mencari makan sendiri dan terkadang diberi makan oleh sang pemilik. Si ikan akan saling berebut untuk mencari makan, ada yang mendapat jatah banyak karena lebih gesit dan kuat, ada juga yang sedikit karena lemah dan payah. Si ikan pun harus berusaha survive sendiri dari seleksi alam, baik karena penyakit atau karena predator belum lagi  terkadang sang pemilik mengambil sang ikan untuk dimakan. Mungkin sebenarnya seperti itulah hidup kita, seperti ikan di kolam hidup. Hanya saja bedanya, pemilik ikan tidak tau kapan dan bagaimana nasib dari ikan-ikannya besok dan selanjutnya sedangkan Tuhan tau kapan dan bagaimana nasib kita besok dan selanjutnya.

No comments:

Post a Comment