Thursday, March 21, 2013

Untuk seorang ayah

Beliau menjadi ayah saya semenjak kecil (tentu saja), tapi rentang waktu yang lama tak pernah membuat kami akrab. Pertemuan kami hanya sepintas lalu, mungkin karena pkerjaan yang memaksa beliau begitu. Atau mungkin karena saya yang terlalu canggung untuk membaur dengan beliau. Walau begitu saya yakin, beliau tetap menyayangi saya dan saudara kami. Dan beliau pasti tahu, bahwa saya mencintai dan menghormatinya walau dengan cara yang agak berbeda. Saya mengenalnya sebagai sosok yang karakter  keras, mengingat ucapannya bagai titah raja yang pantang dibantah. Tekadang terjadi perbedaan yang membuat kami saling bersengketa, saat dimana ada riak-riak yang membuat keruh hubungan kami. Saat dimana saya merasa paling benar,dan yang lain semua salah. Perbedaan-perbedaan itu pun makin sering terjadi terjadi ketika saya SMA. Saya tau beliau pasti kecewa, bagaimana tidak, ucapan beliau yang tidak pernah dibantah bahkan oleh kakak laki-laki yang tertua. Ketika emosi mulai tinggi, pasti beliau akan beranjak pergi menjauh. Dan saya pun kembali menancapkan sebuah paku kedinding hati beliau. Sering saya  bertanya, mengapa saya sering berontak. Bukankah dulu saya juga seperti lain selalu mengiyakan dan menuruti perintah beliau. Namun ketika SMA mulai beranjak dewasa, entah mengapa semua terasa tidak sama. Rasa ego mulai meninggi, terlebih ketika saya mulai merasa mampu mencari uang sendiri. Sudah sewajarnya bila beliau menganggap saya masih seperti anak yang beliau kenal dulu, masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Itu lah yang membuat perbedaan kami semakin meruncing.

Sekarang seiring berjalannya waktu,saya mulai mengerti kenapa beliau berbuat begitu. Bahkan harimau pun tidak akan menyakiti anaknya sendiri, apalagi manusia (setidak itulah keyakinan saya pada orang tua saya, jelas ini tidak berlaku pada semua orang tua. Karena sekarang banyak orang tua yang lebih kejam dari harimau, tega menjual bahkan membunuh atau memperkosa anaknya sendiri). Tidak ada kata terlambat untuk menjadi baik, itulah yang menjadi semangat saya untuk menebus semua kesalahan selama ini. Saya akan berusaha menjadi lebih baik di penghujung usia beliau. Karena di balik kerasnya beliau selama ini, di balik sikap acuh pada kami sebenarnya beliau selalu menyayangi kami dan selalu ingin membuat kami jadi lebih dari beliau. Saya yakin, di sela-sela letihnya beliau sehabis bekerja, beliau selalu menanyakan kabar kami melalui ibu kami. Bila itu kabar baik beliau selalu tersenyum di balik diamnya, dan bila itu kabar buruk beliau selalu menahan tangis di balik karakternya yang keras. Bahkan beliau yang selalu diam dan tak banyak bicara pun akan terlihat yang paling ribut ketika diantara kami ada yang sakit. Dan beliau selalu berdiri paling depan kita di antara kami terancam, beliau selalu menggung dari setiap kesalahan kami dan selalu menunjuk kearah kami kita kami melakukan hal yang membanggakan walau sebenarnya itu semua tidak terlepas dari arahan dan bimbingan beliau. Tak akan pernah cukup hanya jutaan ucapan terimakasih, uang miliaran rupiah, atau ribuan kali sujud di kaki beliau untuk membalas jasa-jasa beliau selama ini……..

No comments:

Post a Comment