Beliau menjadi
ayah saya semenjak kecil (tentu saja), tapi rentang waktu yang lama tak pernah membuat kami akrab. Pertemuan kami hanya sepintas lalu, mungkin karena pkerjaan yang
memaksa beliau begitu. Atau mungkin karena saya yang terlalu canggung untuk
membaur dengan beliau. Walau begitu saya yakin, beliau tetap menyayangi saya
dan saudara kami. Dan beliau pasti tahu, bahwa saya mencintai dan menghormatinya walau dengan cara yang agak berbeda. Saya mengenalnya sebagai
sosok yang karakter keras, mengingat ucapannya bagai titah raja yang pantang
dibantah. Tekadang terjadi perbedaan yang membuat kami saling bersengketa, saat
dimana ada riak-riak yang membuat keruh hubungan kami. Saat dimana saya merasa
paling benar,dan yang lain semua salah. Perbedaan-perbedaan itu pun makin
sering terjadi terjadi ketika saya SMA. Saya tau beliau pasti kecewa, bagaimana
tidak, ucapan beliau yang tidak pernah dibantah bahkan oleh kakak laki-laki
yang tertua. Ketika emosi mulai tinggi, pasti beliau akan beranjak pergi
menjauh. Dan saya pun kembali menancapkan sebuah paku kedinding hati beliau. Sering
saya bertanya, mengapa saya sering berontak. Bukankah dulu saya juga seperti
lain selalu mengiyakan dan menuruti perintah beliau. Namun ketika SMA mulai
beranjak dewasa, entah mengapa semua terasa tidak sama. Rasa ego mulai
meninggi, terlebih ketika saya mulai merasa mampu mencari uang sendiri. Sudah sewajarnya bila beliau menganggap saya masih seperti anak yang beliau kenal
dulu, masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Itu lah yang membuat perbedaan
kami semakin meruncing.
Sekarang seiring
berjalannya waktu,saya mulai mengerti kenapa beliau berbuat begitu. Bahkan
harimau pun tidak akan menyakiti anaknya sendiri, apalagi manusia (setidak
itulah keyakinan saya pada orang tua saya, jelas ini tidak berlaku pada semua
orang tua. Karena sekarang banyak orang tua yang lebih kejam dari harimau, tega
menjual bahkan membunuh atau memperkosa anaknya sendiri). Tidak ada kata
terlambat untuk menjadi baik, itulah yang menjadi semangat saya untuk menebus
semua kesalahan selama ini. Saya akan berusaha menjadi lebih baik di penghujung
usia beliau. Karena di balik kerasnya beliau selama ini, di balik sikap acuh
pada kami sebenarnya beliau selalu menyayangi kami dan selalu ingin membuat
kami jadi lebih dari beliau. Saya yakin, di sela-sela letihnya beliau sehabis
bekerja, beliau selalu menanyakan kabar kami melalui ibu kami. Bila itu kabar
baik beliau selalu tersenyum di balik diamnya, dan bila itu kabar buruk beliau
selalu menahan tangis di balik karakternya yang keras. Bahkan beliau yang
selalu diam dan tak banyak bicara pun akan terlihat yang paling ribut ketika
diantara kami ada yang sakit. Dan beliau selalu berdiri paling depan kita di
antara kami terancam, beliau selalu menggung dari setiap kesalahan kami dan
selalu menunjuk kearah kami kita kami melakukan hal yang membanggakan walau
sebenarnya itu semua tidak terlepas dari arahan dan bimbingan beliau. Tak akan
pernah cukup hanya jutaan ucapan terimakasih, uang miliaran rupiah, atau ribuan
kali sujud di kaki beliau untuk membalas jasa-jasa beliau selama ini……..
No comments:
Post a Comment