Thursday, March 21, 2013

My Experience Session II

Kaya biasa aku menghabiskan waktu untyuk nongkrong di ponsel (maklum jadi penjaga ponsel, Alhamdulillah dapat kerjaan). Dan seperti biasa juga aku cuma melamun kalo gak terlalu banyak konsumen. Lagi enak – enaknya melamun taunya ada orang mau isi lagu. Sebenarnya dah biasa ada orang isi lagu, tapi yang bikin beda adalah yang mau isi lagu itu teman waktu masih SD ku dulu. Gak terlalu akrab sich, soalnya dia satu generasi dibawah ku. Jadi apapun yang dilakukannya pasti duplikasi dari apa yang pernah kami lakukan sebelumnya digenerasi kami.

Cukup lama kami ngobrol, lumayanlah, itung- itung reuni masa lalu. Katanya gak bisa lama,soalnya ada yang mau dikerjakan. Dari obralan yang sebentar dapat membuat kembali melayang kemasa lalu. Masa dimana aku belum mau tau tentang baik buruknya sesuatu, tentang apa itu dosa, dan apa itu karma. Yang tau hanya lah ’Apa yang kulakukan hari ini akan berkhir hari ini, dan tak bersambung dikemudian hari, termasuk tanggung jawabnya di kehidupan yang lain’. Bukan berarti sekarang aku menjadi orang suci, yang tiap hari cium sejadah. Setidaknya aku telah berubah, yang kulakukan sekarang gak pernah merugikan orang lain (setidaknya itu lah yang kurasakan, gak tau benar apa gaknya). Dulu aku melakukan banyak hal – hal yang selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Bagaimana gak merugikan orang lain, kalo tiap hari kerjanya pinajam barang orang tanpa permisi yang punya. Mau begadang tapi gak punya modal, kepaksa dah membeli ubi atau jagung orang yang ada tanpa repot-repot harus bayar. Yach..istilah kerennya manfaatkan SDA yang tersedia.

Dan ternyata malam ini benar-benar menjadi ajang reuni dan sharing. Dari pengakuannya dia bilang kalo pernah hampir ketangkap waktu mau nyewa ayam orang. Soalnya dia langsung lari sekencang-kencangnya tanpa sempat pamitan sama si calon korban. Tapi, ternyata dari kelompoknya ada yang ketangkap satu dan tentunya nasibnya sama seperti maling-maling kelas teri lainnya, mendapat kejutan dan ucapan terimakasih dari sang mpu-nya ayam. Besoknya tim introgasi langsung datang kerumahnya teman yang ketangkap, ngecek dia ngaku apa gak siapa aja teman dinasnya. Dan seperti sudah menjadi tradisi kami, mulut terkunci walau air mata berlinang di pipi (pengalaman pribadi ini, habis dah kena semprot kena pukul, pokonya banyak dah). Pas ditanya lagi “kenapa gak langsung lari”? si yang ketangkep tadi bilang gini “aku lagi usaha mekap mulut ayam sambil lari, taunya malah masih bisa teriak-teriak ayamnya. Langsung ketahuan dah, dikejar rame-rame terus ketangkap. Ya langsung dah rasa di dalam adonan”.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah yang kami bahas malam itu. Yang pasti di akhir cerita hanya penyesalan yang dia bilang (itu pun terjad ke diriku). Ya, petulangan dan cerita-cerita kebersamaan yang kami lalui selama ini memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Sekolah kami jadi gak beres, uang kami habis untuk foya-foya, dan dosa-dosa pun seolah menjadi hal maya. “ liat aku sekarang, nganggur, gak ada pekerjaan. Kayapa mau kerja, Cuma lulusan SD. SMP berenti, eh…dikeluarkan apa berenti? Sudah lupa aku…” katanya setengah menggerutu. Aku tersenyum mendengar ucapannya. Tiba-tiba seprti teringat sesuatu dia langsung bergegas berdiri dan pamit pulang, “ sori bos, lain kali aku kesini lagi. Ada kesibukan hari ini, biasa demi sesuap nasi”. Aku pun memakluminya, sambila menganggukdan tersenyum…………

No comments:

Post a Comment