Kaya biasa aku menghabiskan waktu
untyuk nongkrong di ponsel (maklum jadi penjaga ponsel, Alhamdulillah dapat
kerjaan). Dan seperti biasa juga aku cuma melamun kalo gak terlalu banyak
konsumen. Lagi enak – enaknya melamun taunya ada orang mau isi lagu. Sebenarnya
dah biasa ada orang isi lagu, tapi yang bikin beda adalah yang mau isi lagu itu
teman waktu masih SD ku dulu. Gak terlalu akrab sich, soalnya dia satu generasi
dibawah ku. Jadi apapun yang dilakukannya pasti duplikasi dari apa yang pernah
kami lakukan sebelumnya digenerasi kami.
Cukup lama kami ngobrol,
lumayanlah, itung- itung reuni masa lalu. Katanya gak bisa lama,soalnya ada
yang mau dikerjakan. Dari obralan yang sebentar dapat membuat kembali melayang
kemasa lalu. Masa dimana aku belum mau tau tentang baik buruknya sesuatu,
tentang apa itu dosa, dan apa itu karma. Yang tau hanya lah ’Apa yang kulakukan
hari ini akan berkhir hari ini, dan tak bersambung dikemudian hari, termasuk
tanggung jawabnya di kehidupan yang lain’. Bukan berarti sekarang aku menjadi
orang suci, yang tiap hari cium sejadah. Setidaknya aku telah berubah, yang
kulakukan sekarang gak pernah merugikan orang lain (setidaknya itu lah yang
kurasakan, gak tau benar apa gaknya). Dulu aku melakukan banyak hal – hal yang
selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Bagaimana gak
merugikan orang lain, kalo tiap hari kerjanya pinajam barang orang tanpa
permisi yang punya. Mau begadang tapi gak punya modal, kepaksa dah membeli ubi
atau jagung orang yang ada tanpa repot-repot harus bayar. Yach..istilah
kerennya manfaatkan SDA yang tersedia.
Dan ternyata malam ini benar-benar
menjadi ajang reuni dan sharing. Dari pengakuannya dia bilang kalo pernah
hampir ketangkap waktu mau nyewa ayam orang. Soalnya dia langsung lari
sekencang-kencangnya tanpa sempat pamitan sama si calon korban. Tapi, ternyata
dari kelompoknya ada yang ketangkap satu dan tentunya nasibnya sama seperti
maling-maling kelas teri lainnya, mendapat kejutan dan ucapan terimakasih dari
sang mpu-nya ayam. Besoknya tim introgasi langsung datang kerumahnya teman yang
ketangkap, ngecek dia ngaku apa gak siapa aja teman dinasnya. Dan seperti sudah
menjadi tradisi kami, mulut terkunci walau air mata berlinang di pipi
(pengalaman pribadi ini, habis dah kena semprot kena pukul, pokonya banyak
dah). Pas ditanya lagi “kenapa gak langsung lari”? si yang ketangkep tadi
bilang gini “aku lagi usaha mekap mulut ayam sambil lari, taunya malah masih
bisa teriak-teriak ayamnya. Langsung ketahuan dah, dikejar rame-rame terus
ketangkap. Ya langsung dah rasa di dalam adonan”.
Sebenarnya masih banyak
kisah-kisah yang kami bahas malam itu. Yang pasti di akhir cerita hanya
penyesalan yang dia bilang (itu pun terjad ke diriku). Ya, petulangan dan
cerita-cerita kebersamaan yang kami lalui selama ini memerlukan pengorbanan
yang sangat besar. Sekolah kami jadi gak beres, uang kami habis untuk
foya-foya, dan dosa-dosa pun seolah menjadi hal maya. “ liat aku sekarang,
nganggur, gak ada pekerjaan. Kayapa mau kerja, Cuma lulusan SD. SMP berenti,
eh…dikeluarkan apa berenti? Sudah lupa aku…” katanya setengah menggerutu. Aku tersenyum
mendengar ucapannya. Tiba-tiba seprti teringat sesuatu dia langsung bergegas
berdiri dan pamit pulang, “ sori bos, lain kali aku kesini lagi. Ada kesibukan
hari ini, biasa demi sesuap nasi”. Aku pun memakluminya, sambila menganggukdan
tersenyum…………
No comments:
Post a Comment