Siapa jaya? Dia adalah bukan
siapa-siapa. Separuh dari hidupnya dilalui dengan segala macam cobaan, himpitan
dan kesulitan. Setiap hari dilalui
dengan rasa sakit, kebencian pada dirinya sendiri. Bahkan tiap kali Dia membuka
matanya di pagi hari, selalu terbesit pertanyaan-pertanyaan yang sama. ‘Apa yang bisa kulakukan hari ini? hari ini
kah saatnya aku mati?’. Dengan keadaan yang demikian, tidak heran jika Dia
pun mencari pelarian yang justru membuat semakin jatuh kedalam masalah.
Bagi orang seperti Jaya, kesepian
adalah teman yang setia, dan ditengah rasa kesepian itu entah berapa kali rasa
ingin mengakhiri hidupnya muncul. Tapi entah mengapa, rencana itu selalu gagal.
Seolah Tuhan masih ingin menambah kesengsaraan untuknya, atau justru Tuhan ingin
memberikan akhir yang indah di akhir hidupnya.
Waktu terus berputar, kini tak terasa
dia duduk dibangku SMA. Rasa bencinya pada dirinya semakin subur tumbuh didalam
hatinya. Dan membuatnya semakin tenggelam dengan manis dan harumnya kesesatan
dunia. Sedikit pun tak ada rasa takut akan dosa yang setiap hari dia sisihkan,
yang akan membimbingnya masuk ke Neraka.
Kedekatannya dengan teman satu SMP
nya telah memberikan sedikit sinar akan siapa dirinya. “Kamu berarti, semua orang
memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang dapat dilakukan dan ada pula yang tidak dapat dilakukan. Dan lagi, bila diliat dari luar kamu seperti
gak punya beban hidup. Terkadang kamu bisa bikin orang tersenyum. Kenapa gak setiap hari hari kamu
gitu”. Sejak itu Jaya sadar. Dia pun telah bosan menjadi orang yang tak berarti,
setidaknya itu yang dia rasakan saat ini. Perhatiaan dan kasih sayang
diberikannya benar-benar telah memberikan satu nyawa bagi Jaya.
Ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Kini perayaan kenaikan kelas justru menjadi pertemuan terakhirnya Jaya dengan
Gadis itu. Karena sejak itu Jaya tidak pernah melihat gadis itu lagi. Walaupun
kini sendiri, Jaya tetap berusa menjadi orang berarti. Terkadang rotasi
waktu membawa Jaya kembali ke masa lalunya, apalagi kini teman yang memberikan
penerangan untuknya telah tak ada. Seolah merasa kosong dan hampa, tanpa sadar
Jaya kini perlahan mulai hampir kembali menjadi Jaya yang dulu. Tapi dengan
sedikit keyakinan yang masih tersisa Jaya terberusaha menjadi orang berarti,
kalo bukan untuk dirinya. Setidaknya untuk orang lain.
No comments:
Post a Comment